Dorong Pelestarian Sejarah Berbasis Digital, DHKT ITB dan KIIP Gelar Simposium Teknologi Antarbangsa

22 Oktober 2026 Oleh: Azaki Shaleh Albany Kategori: Acara, Berita
Dorong Pelestarian Sejarah Berbasis Digital, DHKT ITB dan KIIP Gelar Simposium Teknologi Antarbangsa

BANDUNG, dhkt.itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Hilirisasi dan Komersialisasi Produk Teknologi (DHKT) bersama Korean Indonesian Innovation Partners (KIIP) menyelenggarakan Technology and Cultural Heritage Symposium di Gedung ITB Innovation Park Bandung Technopolis, Selasa hingga Rabu (13-14/10/2026). Simposium internasional ini menjadi wadah strategis bagi akademisi, praktisi industri, dan delegasi Korea Selatan untuk mengeksplorasi pemanfaatan teknologi mutakhir dalam pelestarian serta pengembangan warisan budaya.

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian KIIP Korea Week 2026 ini diinisiasi sebagai tindak lanjut atas Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juli lalu antara institusi akademik dan bisnis dari kedua negara. Kolaborasi ini bertujuan menyelaraskan kecepatan eksekusi komersial ala Korea atau yang dikenal dengan istilah pali-pali, dengan ketelitian akademik serta besarnya potensi pasar yang dimiliki Indonesia. Perpaduan tersebut diwadahi oleh KIIP yang berperan sebagai katalis deep-tech institusional.

Sebagai penggerak utama dalam ekosistem inovasi, DHKT ITB menyoroti sektor Phygital Cultural Tourism sebagai salah satu fokus utama dalam forum ini. Pendekatan pariwisata ini menggabungkan pelestarian elemen fisik sejarah dengan ruang digital, pengembangan museum interaktif, hingga teknologi pariwisata kota cerdas. Sebelumnya, inisiatif serupa telah berhasil diwujudkan melalui purwarupa kios kecerdasan buatan (AI) berbahasa isyarat di Museum ITB dan chatbot inovatif di Museum Sangju, Korea.

Selama dua hari penyelenggaraan, simposium diisi dengan beragam sesi presentasi pakar, diskusi meja bundar, serta jejaring bisnis. Agenda hari pertama mendalami topik implementasi 3D reality capture, digitalisasi sejarah dan figur lokal, serta konsep Transfer of Development Rights (TDR) pada aset heritage. Sejumlah pakar lintas disiplin, pemangku kebijakan daerah, dan pelaku industri dari kedua negara turut membedah tantangan serta peluang dari digitalisasi artefak tersebut.

Sementara itu, agenda hari kedua memperluas cakupan diskusi pada aspek tata kelola dan pelindungan hukum warisan budaya. Fokus bahasan meliputi kekayaan intelektual, ekosistem keuangan kota cerdas, peranan badan riset dan inovasi daerah, serta ditutup dengan pemaparan khusus mengenai dinamika ekosistem startup di Korea Selatan.

Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara ini, DHKT ITB berharap diskusi ilmiah tidak sekadar berhenti pada wacana teoritis. Rangkaian simposium ini ditargetkan mampu menghasilkan rencana tindak lanjut kerja sama bisnis dan akademik yang konkret, sehingga integrasi antara inovasi digital dan pelestarian sejarah dapat menciptakan ekosistem pariwisata budaya yang edukatif, tangguh, dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat luas.

Berita Lainnya

WhatsApp