MOBIL MASA DEPAN SUDAH ADA DI SINI Dari Kampus ITB, Kendaraan Otonom Bergerak Menuju

1 September 2026 Oleh: Augie Widyotriatmo, S.T., M.T., Ph.D.
MOBIL MASA DEPAN SUDAH ADA DI SINI Dari Kampus ITB, Kendaraan Otonom Bergerak Menuju

Bayangkan sebuah kendaraan listrik yang mampu mengetahui posisinya, membaca lingkungan di sekitarnya, menentukan jalur yang aman, lalu bergerak menuju tujuan tanpa sepenuhnya bergantung pada pengemudi. Bagi sebagian orang, gambaran ini mungkin masih terdengar seperti teknologi masa depan. Namun di Institut Teknologi Bandung (ITB), teknologi tersebut sudah bergerak keluar dari laboratorium dan mulai diuji dalam situasi nyata.

Di balik pengembangan ini adalah tim riset kendaraan otonom ITB yang dikoordinasikan oleh Augie Widyotriatmo, S.T., M.T., Ph.D. Tim ini mengembangkan sistem kendaraan otonom yang tidak hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga mencoba menjawab pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bisakah teknologi membuat mobilitas menjadi lebih mudah dan inklusif bagi semua orang?

Pertanyaan itu penting bagi Indonesia. Bagi penyandang disabilitas dan sebagian kelompok lansia, perjalanan yang bagi kebanyakan orang terlihat sederhana—menuju tempat kerja, fasilitas kesehatan, kampus, atau ruang publik—dapat menjadi persoalan karena pilihan transportasi yang belum sepenuhnya aksesibel.

Kendaraan otonom membuka kemungkinan baru untuk mengubah situasi tersebut.

Kendaraan yang Belajar Memahami Lingkungannya

Membuat kendaraan bergerak sendiri jauh lebih rumit daripada sekadar memasang komputer pada sebuah mobil listrik. Kendaraan harus mampu memahami apa yang terjadi di sekelilingnya sekaligus mengambil keputusan secara cepat dan aman.

Karena itu, sistem yang dikembangkan ITB menggabungkan berbagai teknologi, mulai dari persepsi lingkungan, lokalisasi, fusi sensor, kecerdasan buatan, perencanaan gerak, hingga kontrol otonom.

Sederhananya, sensor berfungsi sebagai “indra” kendaraan. Data yang dikumpulkan kemudian diolah untuk mengetahui posisi kendaraan dan memahami kondisi lingkungan. Sistem selanjutnya menentukan bagaimana kendaraan harus bergerak, kapan harus memperlambat laju, berhenti, atau menyesuaikan arah.

Namun kondisi dunia nyata tidak pernah sempurna. Sensor dapat mengalami gangguan, lingkungan berubah, dan informasi yang diterima kendaraan tidak selalu lengkap.

Di sinilah salah satu kekuatan teknologi ITB berada.

Tim mengembangkan pendekatan digital twin dan resilient control architecture agar kendaraan tetap dapat bekerja secara andal ketika menghadapi ketidakpastian, perubahan kondisi lingkungan, maupun degradasi kinerja sensor. Digital twin memungkinkan kondisi kendaraan dan sistem operasinya direpresentasikan secara digital, sehingga pengembangan, pengujian, dan evaluasi dapat dilakukan dengan lebih sistematis.

Teknologi tersebut kemudian diwujudkan antara lain melalui Angklung—Minibus Angkutan Listrik Bandung, sebuah prototipe angkutan listrik kampus dengan kemampuan operasi otonom–manual yang dikembangkan bersama mitra industri.

 

Spesifikasi Angklung, Minibus Angkutan Listrik Bandung

Gambar 1 Prototipe angkutan listrik kampus berbasis operasi otonom–manual yang dikembangkan bersama mitra industri.

Bukan Lagi Sekadar Prototipe Laboratorium

Salah satu pertanyaan terpenting dalam pengembangan teknologi adalah apakah sistem dapat bekerja ketika keluar dari lingkungan laboratorium.

Tim ITB mulai memiliki jawabannya.

Teknologi kendaraan otonom ini telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 7, yang menunjukkan bahwa prototipe telah didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang relevan.

Salah satu pengujiannya dilakukan melalui pengembangan Autonomous Guided Vehicle (AGV) untuk kebutuhan logistik terminal di Terminal Peti Kemas Teluk Lamong. Sistem tersebut mampu melakukan docking dengan akurasi hingga tingkat sentimeter—kemampuan yang sangat penting dalam lingkungan logistik yang menuntut presisi tinggi.

Implementasi lainnya berada lebih dekat dengan kehidupan kampus: autonomous electric shuttle ITB.

Shuttle listrik ini menjadi ruang uji nyata untuk melihat bagaimana kendaraan otonom dapat mendukung transportasi kampus yang lebih aman, rendah emisi, dan aksesibel. Lebih penting lagi, kendaraan tersebut telah digunakan untuk melayani penumpang difabel.

.

A group of people sitting on a bus  AI-generated content may be incorrect.

Gambar 2 Mobil listrik otonom ITB melayani penumpang difabel, menghadirkan solusi mobilitas kampus yang aman dan aksesibel bagi semua.

Dari titik inilah teknologi kendaraan otonom mendapatkan makna yang lebih besar. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa akurat sensor membaca lingkungan atau seberapa presisi kendaraan berhenti, tetapi juga siapa yang akhirnya dapat memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

Dari Mobilitas Inklusif hingga Logistik Masa Depan

Potensi penerapan teknologi ini jauh melampaui kawasan kampus.

Dalam konteks mobilitas inklusif, kendaraan otonom berpotensi membantu penyandang disabilitas dan lansia mendapatkan akses yang lebih mandiri menuju layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas sosial.

Pada skala kota, kombinasi kendaraan listrik dan teknologi otonom juga membuka peluang menuju sistem transportasi yang lebih aman dan rendah karbon.

Sementara itu, penerapan AGV menunjukkan jalur komersialisasi yang berbeda. Pertumbuhan kawasan industri, pelabuhan, pergudangan, dan sistem logistik modern menciptakan kebutuhan terhadap kendaraan yang dapat bekerja secara presisi dan terintegrasi dengan sistem digital. Potensi pasar AGV di Indonesia diperkirakan dapat mencapai skala triliunan rupiah seiring berkembangnya otomatisasi di sektor-sektor tersebut.

Artinya, satu basis teknologi dapat membuka lebih dari satu jalur pemanfaatan: dari transportasi publik dan mobilitas inklusif hingga otomasi industri dan logistik.

Membawa Teknologi Indonesia ke Jejaring Global

Langkah berikutnya bukan hanya menyempurnakan teknologi, tetapi juga memperluas ekosistem pengetahuan dan kolaborasinya.

Melalui Fellowship Program, tim ITB akan mengikuti workshop bersama Association for the Advancement of Assistive Technology in Europe (AAATE). Forum tersebut menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman mengenai perkembangan teknologi asistif dan sistem mobilitas di berbagai negara sekaligus memperkenalkan pendekatan yang dikembangkan ITB dari konteks Indonesia.

Jejaring internasional juga diperkuat melalui kolaborasi dengan AGH University of Science and Technology, termasuk kerja sama dengan Associate Professor Phong Ba Dao. Kolaborasi tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas riset, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan peluang proposal dan pendanaan riset bersama.

Bagi pengembangan teknologi masa depan, kolaborasi semacam ini menjadi penting. Kendaraan otonom bukanlah produk dari satu disiplin ilmu. Ia berada di persimpangan antara artificial intelligence, robotics, control engineering, electric mobility, human-centered design, hingga kebijakan transportasi.

Masa Depan yang Mulai Bergerak

Perjalanan kendaraan otonom ITB tentu belum selesai. Setelah demonstrasi teknologi, tantangan berikutnya adalah memperluas pengujian, memastikan keselamatan dan reliabilitas, memperkuat kolaborasi industri, serta menemukan model implementasi dan komersialisasi yang tepat.

ITB akan melanjutkan pengembangan dan hilirisasi teknologi ini melalui penguatan ekosistem Science and Technology Park, kemitraan strategis dengan industri, serta pertukaran peneliti dan mahasiswa dengan universitas mitra internasional.

Namun satu perubahan penting sudah terjadi.

Kendaraan otonom tidak lagi hanya menjadi objek riset yang berada di balik pintu laboratorium. Teknologi tersebut mulai beroperasi di terminal, melintasi kawasan kampus, dan membawa penumpang yang sebelumnya menghadapi keterbatasan mobilitas.

Dan mungkin di situlah gambaran paling menarik tentang teknologi masa depan: bukan ketika mesin mampu bergerak sendiri, tetapi ketika kecanggihan teknologi membuat lebih banyak manusia dapat ikut bergerak.

Inovasi Lainnya