Agrivoltaics Cerdas: Ketika Energi Terbarukan Bertemu Pertanian Digital

4 Agustus 2026 Oleh: Melia Famiola
Agrivoltaics Cerdas: Ketika Energi Terbarukan Bertemu Pertanian Digital

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan ancaman terhadap ketahanan pangan akibat perubahan iklim, para peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pimpin oleh Acep Furqon, PhD (FMIPA) bersama Murdoch and Grifith University dan berbagai mitra Indonesia–Australia melalui pendanaan Program KONEKSI mengembangkan sebuah pendekatan baru yang mengintegrasikan energi terbarukan, pertanian, dan teknologi digital. Penelitian ini tidak hanya bertujuan menghasilkan listrik dari panel surya, tetapi juga membangun sistem pertanian yang lebih produktif, efisien, dan tangguh di wilayah pedesaan dan pulau-pulau terpencil Indonesia.

Konsep yang dikembangkan dikenal sebagai agrivoltaics, yaitu pemanfaatan lahan secara bersamaan untuk menghasilkan listrik dan memproduksi tanaman pangan. Namun, riset ini membawa konsep tersebut selangkah lebih maju melalui penerapan digital agriculture. Berbagai sensor dipasang untuk memantau kelembapan tanah, suhu, intensitas cahaya, kebutuhan irigasi, hingga pertumbuhan tanaman secara real time. Data tersebut kemudian diolah menjadi informasi yang membantu petani menentukan waktu tanam, penyiraman, maupun pemupukan secara lebih akurat.

Pendekatan berbasis data ini menjadi sangat penting mengingat pertanian Indonesia semakin menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim. Dengan memanfaatkan teknologi digital, keputusan yang sebelumnya bergantung pada pengalaman kini dapat didukung oleh informasi ilmiah sehingga penggunaan air, energi, dan input pertanian menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan produktivitas.

Meskipun penelitian KONEKSI berfokus pada Indonesia Timur, gagasan yang dikembangkan memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi Desa Ciroyom di kawasan energi Cirata, Jawa Barat, yang merupakan salah satu kawasan societal impact SBM ITB untuk inisiatif Sirkular rural dan pembinaan bisnis kecil. Sebagaimana ditunjukkan dalam studi konseptual ITB, Ciroyom merupakan contoh desa yang mengalami transformasi ekonomi setelah pembangunan Waduk Cirata. Aktivitas pertanian yang dahulu menjadi sumber utama penghidupan berangsur menurun, sementara sektor jasa dan wisata berkembang pesat. Saat ini lebih dari 400 rumah makan beroperasi di kawasan tersebut, sehingga kebutuhan pangan lokal justru semakin bergantung pada pasokan dari luar desa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunanpedesaan bukan hanya menyediakan energi bersih, tetapi juga menghidupkan kembali kapasitas produksi pangan. Oleh karena itu, konsep agrivoltaics dipandang sebagai solusi yang mampu menghubungkan energi terbarukan dengan revitalisasi pertanian. Di Ciroyom, pendekatan ini bahkan dikembangkan sebagai living laboratory, yaitu ruang kolaborasi antara universitas, pemerintah, perusahaan energi, BUMDes, dan masyarakat untuk menguji teknologi, model bisnis, serta inovasi sosial secara langsung.

Kolaborasi Indonesia–Australia ini memperlihatkan bahwa masa depan transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi panel surya, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan energi, pertanian digital, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem inovasi. Dengan pendekatan tersebut, desa tidak lagi dipandang sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan sebagai pusat inovasi yang mampu menghasilkan energi bersih, pangan, data, dan peluang ekonomi secara berkelanjutan.

1788316365_1654a076935ebbc98e22.jpg

Bersama perangkat desa Ciroyom: Survey lapangan sebelum instalasi

 

 

 

1788316365_48dffc6962a22343637d.jpg

Model pengunaan Agrovoiltaic tekmologi di lapangan

Inovasi Lainnya