Pengembangan Riset dan Inovasi

Meningkatkan kematangan inovasi agar siap dikomersialisasikan dan memberikan dampak.

Kematangan teknologi menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami kesiapan sebuah inovasi untuk bergerak menuju tahap pengembangan berikutnya. Karena itu, Technology Readiness Level (TRL) Assessment di DHKT tidak dilakukan hanya berdasarkan penilaian internal inovator, tetapi melalui proses asesmen yang melibatkan para ahli.

DHKT berkolaborasi dengan Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB membentuk Komite Pengukuran TRL, yang ditetapkan secara resmi melalui Surat Keputusan Wakil Rektor bidang Inovasi. Komite ini terdiri atas dosen-dosen senior yang mewakili berbagai fakultas dan sekolah di ITB, sehingga penilaian dapat mempertimbangkan karakteristik teknologi dari berbagai bidang keilmuan.

Sebelum menjalankan proses asesmen, seluruh anggota komite mengikuti pelatihan dan penyamaan persepsi yang diselenggarakan bersama oleh DRI dan DHKT. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa setiap asesor menggunakan kerangka, indikator, dan standar pembuktian yang konsisten dalam menentukan tingkat kesiapan teknologi.

Melalui proses ini, nilai TRL bukan sekadar angka, tetapi merupakan hasil evaluasi berbasis bukti (evidence-based assessment) yang memberikan gambaran lebih objektif mengenai posisi kematangan teknologi dan kesiapan inovasi untuk melangkah ke tahap berikutnya.

PINEMA: Innovasi intelligent untuk Commersialisasi readiness assessment

secara teknis, tetapi belum menemukan pasar yang tepat. Ada yang memiliki peluang pasar besar, tetapi masih membutuhkan penguatan produksi. Ada pula inovasi yang menjanjikan, namun belum memiliki mitra, model bisnis, atau ekosistem yang cukup untuk membawanya ke tahap berikutnya.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, DHKT ITB mengembangkan PINEMA (Platform untuk Inovasi Inteligen) sebagai platform yang membantu melihat kesiapan sebuah inovasi secara lebih utuh dan menerjemahkannya menjadi langkah pengembangan yang lebih terarah.

PINEMA tidak sekadar bertanya, “Seberapa matang teknologi ini?” tetapi juga “Apa yang masih perlu diperkuat?”, “Ke mana inovasi ini berpotensi dikembangkan?”, dan yang terpenting, “Apa langkah berikutnya yang perlu dilakukan?”

Melihat Inovasi melalui 6 Dimensi

PINEMA memandang bahwa perjalanan dari hasil riset menuju inovasi yang memberikan dampak tidak hanya ditentukan oleh kematangan teknologi. Karena itu, setiap inovasi dipetakan melalui enam dimensi kematangan yang saling melengkapi.

1. Technology Readiness
Menggambarkan tingkat kematangan teknologi, mulai dari konsep dan pembuktian awal hingga teknologi siap diterapkan. Penilaian TRL di ITB dilakukan melalui mekanisme asesmen yang melibatkan Komite Pengukuran TRL.

2. Market Readiness
Melihat sejauh mana inovasi telah memahami kebutuhan pengguna dan pasar. Dimensi ini membantu menjawab apakah terdapat masalah nyata yang ingin diselesaikan, siapa calon penggunanya, serta seberapa kuat peluang penerimaan pasar terhadap inovasi tersebut.

3. Commercial & Investment Readiness
Menilai kesiapan inovasi untuk berkembang menjadi peluang komersial yang layak, termasuk proposisi nilai, model bisnis, kebutuhan pendanaan, potensi pendapatan, serta daya tarik inovasi bagi mitra maupun investor.

4. Manufacturing Readiness
Melihat kemampuan inovasi untuk bergerak dari prototipe menuju produksi atau implementasi pada skala yang lebih besar. Di dalamnya termasuk kesiapan proses produksi, bahan baku, fasilitas, kualitas, biaya, dan kemampuan melakukan scale-up.

5. Sustainability Readiness
Memastikan bahwa inovasi tidak hanya layak secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Dimensi ini membantu melihat potensi kontribusi inovasi terhadap penciptaan nilai yang lebih berkelanjutan.

6. Ecosystem Readiness
Tidak semua inovasi dapat berjalan sendiri. Dimensi ini melihat kesiapan ekosistem pendukung, seperti mitra industri, pemerintah, regulator, investor, pengguna, pemasok, maupun institusi lain yang dibutuhkan agar inovasi dapat berkembang dan diimplementasikan.

Bagaimana PINEMA Bekerja?

PINEMA bekerja seperti sebuah peta perjalanan inovasi.

Proses dimulai dengan mengumpulkan informasi dan bukti perkembangan inovasi. Data tersebut kemudian digunakan untuk membangun Innovation Readiness Profile berdasarkan enam dimensi PINEMA. Dengan cara ini, inovator dan DHKT dapat melihat bukan hanya bagian yang sudah kuat, tetapi juga gap yang masih menghambat perjalanan inovasi.

Hasil asesmen kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi aksi atau development sprint. Jika teknologi sudah cukup matang tetapi validasi pasar masih rendah, misalnya, maka prioritas berikutnya bukan semata-mata meningkatkan teknologi, melainkan melakukan customer discovery, pengujian kebutuhan pengguna, atau validasi pasar. Sebaliknya, inovasi dengan pasar yang mulai terbentuk tetapi belum siap diproduksi dalam skala lebih besar akan membutuhkan penguatan pada aspek manufacturing dan scale-up.

Dengan demikian, PINEMA tidak berhenti pada assessment, tetapi bergerak menuju action:

Evidence → Assessment → Readiness Profile → Gap Identification → Development Sprint → Innovation Pathway

Dari Kematangan Menuju Innovation Pathway

Salah satu fungsi penting PINEMA adalah membantu DHKT dan inovator mengenali innovation pathway yang paling potensial bagi sebuah inovasi ITB.

Tidak semua inovasi harus berakhir dengan mendirikan startup. Sebagian teknologi mungkin lebih tepat dikembangkan melalui lisensi kepada industri, sebagian membutuhkan co-development dengan mitra industri, sebagian memiliki potensi menjadi new venture atau spin-off, sementara inovasi lainnya dapat diarahkan menuju implementasi bersama pemerintah, komunitas, atau mitra strategis lainnya.

Rekomendasi pathway tidak ditentukan hanya berdasarkan satu skor. PINEMA membaca kombinasi kematangan dari keenam dimensi, karakter teknologi, peluang pasar, kesiapan produksi, aspek keberlanjutan, serta kekuatan ekosistem yang tersedia. Karena itu, pathway yang direkomendasikan dapat berkembang seiring dengan meningkatnya kematangan inovasi.

PINEMA pada akhirnya membantu menjawab tiga pertanyaan sederhana namun penting bagi setiap inovasi:

Where are we now?
Di mana posisi kematangan inovasi saat ini?

What should we strengthen next?
Apa yang perlu diperkuat agar inovasi dapat bergerak maju?

Which pathway should we pursue?
Jalur pengembangan dan komersialisasi apa yang paling potensial?

Melalui PINEMA, DHKT ingin membangun proses pengelolaan inovasi yang semakin berbasis bukti, terarah, dan adaptif. Bukan sekadar mengumpulkan teknologi, tetapi memahami perjalanan masing-masing inovasi dan membantu menemukan langkah serta jalur yang paling tepat untuk membawanya dari hasil riset menuju implementasi, pasar, dan dampak yang lebih luas.

 

 

Ide yang baik membutuhkan lebih dari sekadar ruang untuk berkembang. Untuk bergerak dari hasil penelitian menjadi teknologi yang dapat diuji, dikembangkan, dan akhirnya digunakan oleh masyarakat atau industri, sebuah inovasi membutuhkan dukungan pembiayaan pada setiap tahap perjalanannya.

DHKT ITB membantu membuka dan menghubungkan berbagai peluang pembiayaan bagi pengembangan riset inovasi ITB. Pendanaan tidak dipandang semata sebagai dukungan untuk menjalankan penelitian, tetapi sebagai enabler yang membantu inovasi bergerak menuju tingkat kematangan yang lebih tinggi, validasi, scale-up, hingga implementasi dan komersialisasi.

Secara umum, dukungan pembiayaan riset inovasi yang dikelola dan difasilitasi DHKT berasal dari tiga sumber utama.

1. PRIME STeP — Mendorong Inovasi Menuju Hilirisasi

Salah satu sumber pembiayaan strategis adalah PRIME STeP, program yang memperoleh dukungan pendanaan dari Asian Development Bank (ADB).

Melalui program ini, ITB memperoleh ruang untuk memperkuat ekosistem inovasi dan kewirausahaan, termasuk mendukung pengembangan teknologi agar tidak berhenti pada hasil penelitian atau prototipe.

Pendanaan diarahkan untuk membantu inovasi melewati berbagai tahapan penting dalam perjalanannya, seperti pengembangan dan penyempurnaan teknologi, validasi, penguatan kesiapan menuju pasar, pengembangan kolaborasi, hingga aktivitas yang mendukung proses hilirisasi.

Dengan demikian, PRIME STeP bukan hanya menjadi sumber pendanaan, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat perjalanan inovasi ITB dari research menuju impact.

2. Pendanaan Riset Inovasi Pemerintah

DHKT juga menghubungkan dan memfasilitasi inovator ITB untuk memperoleh berbagai program pendanaan riset dan inovasi yang disediakan pemerintah, termasuk program yang diselenggarakan oleh kementerian yang membidangi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Berbagai skema pendanaan pemerintah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melanjutkan pengembangan teknologi, melakukan pengujian dan validasi, membangun prototipe, meningkatkan kesiapan teknologi, serta memperkuat kolaborasi dengan mitra.

Program pemerintah juga semakin mendorong riset yang memiliki jalur menuju pemanfaatan. Artinya, keberhasilan sebuah riset tidak hanya dilihat dari terciptanya pengetahuan baru, tetapi juga dari kemampuannya menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun industri.

Salah satu contoh pengembangan inovasi ITB adalah trem listrik otonom berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan bersama PT INKA, yang memperoleh dukungan pengembangan riset inovatif dari LPDP dan DHKT ITB.

3. Pendanaan Riset melalui Kerja Sama Industri

Tidak semua inovasi harus dikembangkan melalui hibah. Ketika kebutuhan industri bertemu dengan kompetensi peneliti dan teknologi ITB, kolaborasi riset dengan industri dapat menjadi jalur pembiayaan sekaligus jalan menuju implementasi.

Melalui skema ini, perusahaan dapat bekerja bersama peneliti ITB untuk mengembangkan teknologi baru, menyelesaikan persoalan teknologi yang dihadapi industri, melakukan proof of concept, pengujian dan validasi, pengembangan prototipe, maupun scale-up teknologi.

Pendanaan industri memiliki nilai strategis karena sejak awal inovasi dikembangkan lebih dekat dengan real problem, real user, dan real market.

Kolaborasi seperti ini juga dapat berkembang lebih jauh menjadi co-development, lisensi teknologi, kerja sama produksi, maupun bentuk kemitraan komersial lainnya.

Pembiayaan sebagai Bagian dari Perjalanan Inovasi

Bagi DHKT, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Dari mana inovasi memperoleh pendanaan?”, tetapi juga “Pendanaan seperti apa yang paling dibutuhkan inovasi pada tahap ini?”

Setiap inovasi memiliki tingkat kematangan dan kebutuhan yang berbeda. Teknologi pada tahap awal mungkin membutuhkan pendanaan untuk validasi dan pengembangan prototipe. Teknologi yang lebih matang mungkin membutuhkan pengujian bersama industri, scale-up, sertifikasi, validasi pasar, atau persiapan menuju komersialisasi.

Karena itu, pembiayaan riset inovasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari innovation journey:

Research → Validation → Development → Scale-up → Commercialization → Impact

Melalui kombinasi PRIME STeP, pendanaan pemerintah, serta kerja sama dengan industri, DHKT berupaya membangun jembatan agar inovasi-inovasi ITB memiliki sumber daya dan mitra yang tepat untuk terus bergerak.

Tujuannya sederhana: agar semakin banyak hasil riset ITB tidak berhenti sebagai pengetahuan dan prototipe, tetapi berkembang menjadi inovasi yang digunakan, menciptakan nilai, dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia.


PRIME STeP | Government Funding | Industry Collaboration

Ajukan Riset Inovasi →

Membawa Inovasi ITB Terhubung dengan Dunia

Mengembangkan inovasi tidak selalu cukup dilakukan di dalam laboratorium sendiri. Pada tahap tertentu, seorang inovator membutuhkan perspektif baru, keahlian yang berbeda, fasilitas yang lebih maju, pengalaman dari ekosistem lain, atau mitra yang dapat membantu membawa inovasinya ke tahap berikutnya.

Fellowship PRIME STEP

Fellowship ini merupakan bagian dari Promoting Research and Innovation Through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP) yang saat ini menjadi salah satu instrumen DHKT untuk memperkuat kapasitas inovasi dan ekosistem Science and Technology Park ITB.

Melalui program ini, peserta dapat mengembangkan kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, Science and Technology Park, innovation hub, maupun institusi internasional lainnya yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pengembangan inovasinya.

Dua Fellowship, Dua Kebutuhan

Setiap inovator memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada yang sudah memiliki teknologi dan membutuhkan mitra untuk membuat inovasinya semakin matang. Ada pula yang membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan jejaring baru sebelum dapat membawa inovasinya lebih jauh.

Karena itu, PRIME STeP Fellowship DHKT menawarkan dua jenis fellowship.

01 — Fellowship Penguatan Inovasi

Untuk inovator yang ingin membawa teknologinya satu langkah lebih maju.

Fellowship Penguatan Inovasi ditujukan terutama bagi dosen dan tim peneliti yang sedang mengembangkan produk inovasi dan membutuhkan kolaborasi internasional untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan inovasinya.

Peserta dapat bekerja bersama peneliti di institusi tujuan, mengembangkan metodologi atau desain eksperimen, menyempurnakan prototipe dan sistem, memanfaatkan fasilitas laboratorium yang belum tersedia di ITB, melakukan knowledge transfer, hingga membangun rencana pengembangan teknologi bersama mitra internasional.

Dalam program tahun 2026, skema ini diarahkan pada inovasi dengan Technology Readiness Level (TRL) di atas 6, sehingga fellowship menjadi kesempatan untuk memperkuat teknologi yang telah berkembang agar semakin dekat menuju implementasi dan hilirisasi.

Dengan kata lain, peserta tidak sekadar pergi untuk belajar, tetapi pergi dengan membawa sebuah inovasi untuk dikembangkan bersama.

02 — Fellowship Penguatan Kapasitas Inovator

Karena teknologi yang kuat juga membutuhkan inovator dan ekosistem yang kuat.

Tidak semua kebutuhan pengembangan inovasi berada di laboratorium. Kemampuan memahami hilirisasi teknologi, mengelola inovasi, membangun startup, mengembangkan Science and Technology Park, maupun membangun jejaring internasional juga menentukan keberhasilan sebuah inovasi.

Fellowship Penguatan Kapasitas Inovator memberikan kesempatan kepada dosen ITB untuk mengikuti pelatihan, kursus singkat, workshop, bootcamp, benchmarking, magang singkat, maupun program pengembangan kapasitas lainnya pada institusi internasional bereputasi.

Peserta juga dapat belajar langsung dari innovation hub, inkubator bisnis, pusat riset, Science and Technology Park, pakar, praktisi, maupun pengelola inovasi di berbagai negara.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan pengalaman internasional. Setiap peserta diharapkan kembali dengan pengetahuan, kompetensi, jejaring, dan praktik baik yang dapat diterapkan kembali untuk memperkuat inovasi dan ekosistem inovasi ITB.

Dari Fellowship Menjadi Kolaborasi

Bagi DHKT, fellowship bukan sebuah perjalanan yang berhenti ketika peserta kembali ke Indonesia.

Justru pertanyaan terpentingnya adalah:

“Apa yang berubah setelah fellowship?”

Peserta didorong untuk membawa pulang sesuatu yang dapat ditindaklanjuti—baik berupa peningkatan kualitas inovasi, metode baru, kompetensi baru, akses terhadap fasilitas dan keahlian, maupun hubungan dengan mitra internasional.

Dari sebuah fellowship dapat lahir riset bersama, pertukaran peneliti, pengembangan teknologi, publikasi, kolaborasi institusional, hingga peluang kerja sama inovasi jangka panjang.

Karena itu, setiap fellowship juga memiliki follow-up plan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dibagikan kembali melalui kegiatan diseminasi sehingga manfaat program tidak berhenti pada satu individu, tetapi dapat memperkuat komunitas inovasi ITB secara lebih luas.

Connecting ITB Innovation to the World

PRIME STeP Fellowship merupakan bagian dari upaya DHKT membangun inovasi ITB yang semakin terbuka dan terhubung dengan ekosistem global.

Program ini memberikan ruang bagi inovator untuk keluar dari lingkungan yang sudah dikenalnya, bertemu dengan keahlian baru, melihat bagaimana inovasi dikembangkan di tempat lain, dan menemukan partner yang tepat untuk perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya, fellowship bukan hanya tentang ke mana seorang inovator pergi, tetapi tentang apa yang ia bawa kembali dan bagaimana pengalaman tersebut membantu inovasi ITB bergerak lebih jauh.

Learn globally. Collaborate meaningfully. Bring the impact home.